MENELISIK PEMILIH RASIONAL, JELANG PEMILU SERENTAK.

 

                                                                                   Agsta Aris Afifudin
(Mahasiswa Universitas Peradaban, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi).

Selarasindo.com–Menjelang Pemilu 2019, untuk pertama kalinya dalam sejarah suhu politik kian memanas dan tahapan kampanye pemilu saat ini masih berlangsung. Pasalnya, masa tenang pemilu dimulai 14-16 April dan masa pencoblosan pada 17 April 2019.

Ada banyak pihak yang memanfaatkan sisa waktu sebelum masa pemungutan suara dengan menebar berita buruk  kepada publik. Ada juga pihak-pihak yang memanfaatkan dengan menggunakan fasilitas pemeritah diantaranya pendidikan, dan tempat beribadah untuk berkampanye yang bertujuan untuk memperoleh suara terbanyak. Walau hal diatas merupakan salah satu kesempatan dalam kreadibilitas sang pemimpin untuk mendominasi suara, melanggar peraturan yang sudah di tetapkan bukanlah fenomena baru dalam dunia politik.

 

Antar kubu saling berlomba-lomba untuk mengadu nasib dalam masa Pemilu 2019 ini. Sudah terlalu banyak uang yang dihamburkan untuk “pesta demokrasi”. Ya namanya Pemilu (Pemilihan Umum) pada dasarnya pemilihan identik dengan sesuatu hal yang mencirikan bahwa kita mempunyai hak dalam memilih.

Masyarakat harus bisa menggunakan hak suaranya dengan benar. Karena, hal ini bisa melahirkan sosok pemilih pemula yang berkualitas, agar masyarakat juga tidak mengacu pada pemilih yang berkuantitas saja.

Jangan sampai memilih karena di kaderisasi dengan iming-iming materi. Hal itu tidak menunjukkan bahwa pemimpin yang akan kita pilih mempunyai integritas dan seakan-akan bisa mewakili rakyat.

Saat menjelang pemilu, kita sering kali mendengar pernyataan pemilih rasional sebagai karakter pemilih ideal. Pemilu diasumsikan berjalan baik apabila porsi pemilih dengan nalar logis tersebut mendominasi keseluruhan jumlah pemilih. Faktanya, menjelaskan pemilih rasional tidak mudah, karena adanya kompleksitas logika dalam mengambil keputusan saat memilih.

Dalam kajian perilaku memilih, untuk memperjelas bagaimana teori pilihan rasional. “Pertama Perilaku Kolektif yaitu, isu makro yang dapat dilihat dari sisi mikro individu pelakunya. Munculnya perilaku kolektif karena aktor yang menilai perlu menyandarkan kepentingan atau tujuannya agar mendapat keuntungan yang maksimal tanpa harus melakukan usaha yang besar. Contoh kasus ini sebut saja, Caleg yang meng iming-imingi warga dengan Money Politics. Kedua Norma-norma yaitu, upaya yang dilakukan oleh aktor agar individu lain mengontrol kendala dari aktor, agar efektivitas menjadi meningkat dan memunculkan konsensus yang mencegah ketidak seimbangan. Ketiga Korporat yaitu, munculnya seorang aktor korporat adalah upaya dari kelompok sosial untuk mendorong sang aktor secara bersaman-sama. Ketika aktor berkompetisi dalam pemilihan maka proses pemungutan suara individu-individu adalah isu mikro menuju makro.

Penekanan dalam kajian ini James S. Coleman memandang bahwa individu adalah homo sociologicus mendorong perspektif pilihan rasional pada proses sosialisasi yang akrab diantara individu dan masyarakat”. Dikutip dari Ritzer, Goerge. 2012 dalam bukunya Teori Sosiologi. Yogyakarta:Pustaka Belajar.

 

Jika dalam kajian perilaku memilih, karakter pemilih rasional yang paling penting yaitu kemampuan kalkulasi. Pemilih bisa membandingkan opsi-opsi kebijakan yang ditawarkan kandidat. Beikutnya, tawaran kebijakan yang paling mendekati kebutuhan dan permintaan pemilih memberi peluang bagi kandidat untuk dipilih (kesesuaian). Maka, kandidat yang dinilai berpeluang lebih tinggi akan dipilih berdasarkan kalkulasi dan kesesuaian (strategis).

Munculnya pemilih rasional adalah kecukupan informasi. Untuk melakukan kalkulasi, menemukan kesesuaian, dan memilih secara strategis, pemilih harus mendapat suplai informasi yang cukup. Kampanye merupakan salah satu metode yang paling sesuai untuk memenuhi kecukupan informasi.

Karena itu, bagi sebagian orang jika ditanya akan memilih siapa pada pemilihan umum pada April 2019 nanti barangkali belum bisa menentukan jawaban. Meski sebagian yang lain sudah mantap dengan pilihannya masing-masing.

Masalahnya, pemilih terkadang tidak melihat sesuatu yang menarik dari kandidat Pemilu 2019. Ditambah lagi Pemilu 2019 ini merupakan sejarah pertama kalinya di Indonesia yang harus siap memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota hingga memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Visi misi yang tidak jelas hingga minimnya kreativitas dalam berkampanye mengakibatkan pemilih bingung. Hal ini menciptakan suatu kondisi bagi para pemilih, atau biasa yang di sebut dengan Swing Voter.

Apalagi para kandidat yang bertarung saat ini cenderung tidak menunjukkan diskursus yang cerdas dengan menjual visi misi serta program kerja. Namun, masih menonjolkan kampanye negatif dari lawan politiknya.

Di sisi yang lain, para swing voter saat ini dinilai sudah rasional. Tetapi ada sebuah lembaga yang mengungkapkan bahwa swing voter atau pemilih mengambang di dominasi oleh generasi muda atau milienials. Jika mengacu pada berbagai tulisan, kelompok milienal bisa dikatakan adalah kelompok yang rasional. Yang tentunya hal ini juga memberikan tantangan bagi para kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan umum. Salah satunya yang menjadi tantangan bagi para kandidat adalah menyakinkan kaum-kaum milenial agar memilih mereka.

Berbicara tingginya swing voter dalam Pemilu di Indonesia semakin menarik karena mereka digadang-gadang bisa menjadi penentu hasil akhir, atau mendapatkan pemungutan suara terbanyak. Pantas saja jika hal ini banyak sekali kandidat yang mencari kesempatan dalam mengambil suara. Hal yang banyak dilakukan adalah dengan kampanye hitam, atau biasa disebut dengan melanggar undang-undang yang sudah ditetapkan. (Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu).

Dengan demikian, fenomena swing voter ini akan terus berlanjut hingga masa pemungutan suara tiba. Kelompok tersebut menjadi peran vital bagi kemenangan para kandidat. Sejauh mana untuk paslon Capres dan Cawapres, Caleg dan lainnya dapat berkampanye dengan baik dan tidak ada blunder yang signifikan.

Maka dari itu, masyarakat khususnya harus menggunakan hak suaranya dengan benar, yang tidak mengacu pada pemilih yang berkuantitas saja. Harus menggunakan nalar dan logis seperti yang disebutkan pemilih yang rasional tadi khususnya bagi kaum milenials.

Jangan memilih berdasarkan katanya, jangan memilih karena diiming-imingi materi. Jadilah pemilih yang bijak. Hasil pemilu serentak 2019 nanti tentunya akan mempengaruhi masa depan Indonesia, dan juga masa depan mereka ( generasi milenial).

 

Oleh :

Agsta Aris Afifudin

(Mahasiswa Universitas Peradaban, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.