‘DADUNG KAMULYAN’ UNGKAPAN PERJALANAN HIDUP TITUT EDI PURWANTO.

Titut Edi Purwanto pimpinan Sanggar Seni Teater Oncor. (sh)

Selarasindo.com–Jumat malam 1 Nopember 2019, Pendapa Praba Wulan  Agro Karang Penginyongan (AKP) dipadati dengan pengunjung rombongan guru dan karyawan SMA Negeri 1 Cilacap.

Rombongan SMA N 1 Cilacap saat disuguhi dan dilibatkan dalam Pentas Teater Oncor dengan cerita Dadung Kamulyan Dalam Bingkai Oncor Malam karya Titut Edi Purwanto di halaman dan Pendapa Praba Wulan, Jumat 1/11  (SH)

Kehadirannya di wahana wisata edukasi Agro Karang Penginyongan ini dalam rangka refreshing sekaligus jalin tali persudaraan, keakraban sekaligus kekompakan dalam menjalani tugas rutinnya di dunia pendidikan.

Tamu dari SMA Negeri 1 Cilacap itu mendapat kejutan berupa pentas seni teater karya Titut Edi Purwanto.

Malam itu rombongan sekitar 80 orang tersebut bukan hanya senagai penonton tapi juga dilibatkan dalam pentas  teater kolosal hasil karya Titut berjudul : Dadung Kamulyan Dalam Bingkai Oncor Malam.

Teater Dadung Kamulyan Dalam Bingkai Oncor Malam di Pendapa Praba Wulan AKP, Jumat 1/11. (SH)

Cerita tersebut merupakan ungkapan pengalaman hidup pribadi yang kemudian melahirkan inspirasi menjadi sebuah cerita yang didalamnya mengajarkan betapa pentingnya hubungan antar sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Dari cerita yang diungkap dalam pentas teaterikal ini Titut menuturkan bahwa yang dimaksud Dadung disini adalah ikatan jalinan kasih yang dalam Islam adalah tali silaturahmi.

Dalam kerohanian, Dadung Kamulyan adalah jalinan kasih sayang. Sedangkan Oncor Malam memiliki makna cahaya Tuhan. Mengapa dengan kata-kata malam? Karena pada malam hari manusia menemukan kesunyian. Ketika dirinya sendirian, saat itu ia menemukan dirinya tengah bermusakhabah, introspeksi  atau koreksi diri.

Titut menuturkan bahwa karya teater Dadung Kamulyan ini muncul ketika ia jatuh pada kemiskinan, diuji dengan jatuhnya nilai ekonomi. Kemudian ia mencari tempat sunyi. Disinilah ia menemukan tali kasih antara Tuhan dan alam.

Di saat jatuh miskin, teman dan sahabat banyak yang menjauh dari kehidupannya.  Karena ia sedang jatuh miskin, maka bagi orang yang berkepentingan materi tidak mendekat lagi.

“Saya merasa sendiri. Dalam kesendirian itulah saya menemukan kasih Tuhan. Saya menemukan jalinan kasih antara saya, alam dan Tuhan.” ujarnya.

Untuk kembali ke daerah Cipendok ini saat itu ia merasa sangat sulit karena telah kehilangan tanah seluas 2 hektar yang dijual sehingga ia sempat meratapi apa yang telah dimiliki kemudian lepas dan jatuh ke tangan orang lain.

Diskusi dengan alam.

Dalam keheningan  malam itu Titut meratapi dan menyampaikan kepada Tuhan  bahwa saat ini ia  tidak memiliki tanah sejengkalpun.

”  Meski saya sudah tidak punya tanah sejengkal pun, tapi ya Tuhan ijinkanlah saya diberi rohnya tanah Cipendok.” tuturnya berujar.

Dalam perjalanan waktu akhirnya Titut menemukannya. Saat ini ia sudah tidak merasa kecewa meski tidak punya tanah dan sertivikat. Tapi sudah mendapat kecintaan dengan seringnya berkunjung ke alam, bercengkerama dengan alam dan menemukan indahnya diskusi dengan alam Cipendok.

“Akhirnya saya sering melakukan ritual dan pentas seni di Cipendok ini. Karena totalitasnya dalam bercengkerama dengan alam, seni dan budaya, akhirnya dipertemukan dengan pengusaha dari Gombong yang bernama Koeswintoro atau biasa disapa Pak Liem itu.” ungkapnya lagi.

Dari situlah lanjutnya, ia merasa bahwa Tuhan menghendakinya. Dari yang tadinya tidak punya modal, palah sekarang disuruh mengelola lahan seluas 4 hektar.

“Ini merupakan bukti bahwa di sini ada jalinan kasih berupa Dadung Kamulyan. Bukan oleh teman tapi oleh otak kita sendiri. Jika kita berprasangka baik kepada Tuhan, maka akan terbentuk tali silaturahmi. Akan ada kasih sayang dengan sesama, dengan alam dan Tuhan.” ujarnya.

Dari pengalaman perjalanan hidup tersebut kemudian  Titut melahirkan karya seni berupa teater Dadung Kamulyan Dalam Bingkai Oncor Malam. Ini merupakan pengalaman hidup dimana Titut pernah berdo’a sendirian di tempat ini, di keheningan malam. Di tempat itulah ia menemukan kedekatannya dengan Tuhan.

Ketika jatuh tersungkur dengan peluh, saya dipertemukan dengan alam dan kasih Tuhan. Kemudian dengan dzikir siri, dzikir nyata ditemani makhluk gaib yang tidak kelihatan bahkan saya bayangkan seperti Malaikat yang  ikut bergabung berdoa bersama.

“Bahkan saya tidak pernah lupa bahwa kita selalu dikejar waktu agar tetap ingat kepada Tuhan.” ujarnya.

Dalam teater tersebut ada Bedug. Bedug bagi orang Jawa adalah alat komunikasi yang mengeluarkan suara sebagai pengingat waktu. Sedangkan Dadung atau dua tali. Yang satu dari bumi dan satunya lagi dari langit. Keduanya menyatu sehingga menyambung antara bumi langit. Yakni menyambungkan antara manusia dengan Sang Pencipta. (Saring Hartoyo)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.