SISWOYO : SENI BUDAYA MEDIA PEMERSATU BANGSA..

Siswoyo, (SH)

Selarasido.com—Sabtu malam Minggu 15 Februari 2020  Pemda kabupaten Banyumas punya hajat besar yakni memperingati hari jadi ke 499.

Salah satunya mengadakan pentas wayang kulit semalam suntuk di Alun  Alun Banyumas menampilkan dalang tiga generasi yakni : Rafi Ramadhan (anak-anak) Prama Riza Fadhlansyah (Remaja) kedua dari Jakarta) dan MPP, Bayu Aji  dari Solo dengan lakon Wahyu Panca Dharma.

Pemirsa juga disuguhi Tarian Lengger Banyumasan oleh siswi SMK Negeri 3 Banyumas. (Dulu SMKI) (SH)

Pagelaran wayang kulit ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dari Unindra yang bersinergi dengan stasiun TVRI Jawa Tengah.

“Acara malam hari ini juga  sekaligus lounching Forum Komunikasi Gerakan Membangun Masyarakat Banyumas. ” ujar  Siswoyo dalam kata sambutannya selaku ketua panitia.

Pada malam hari ini juga merupakan momentum sosilisasi TVRI digital yang diperagakan oleh stasiun TVRI Jawa Tengah.

Budaya, bahasa dan sejarah sebagai media pemersatu bangsa

Perlu kita ketahui bahwa pagelaran wayang kulit ini adalah peninggalan para leluhur. Para nenek moyang yang perlu kita lestarikan. Gamelan dan wayang kulit yang jumlahnya sebanyak ini menurut hemat kami bisa mengolah rasa dan karsa kita yang bisa menghasilkan nilai-nilai positip sehingga kita bisa menyatukan satu bangsa.

Inilah yang diberikan contoh  oleh Unindra melalui pagelaran wayang kulit sebulan sekali secara rutin disejumlah daerah seperti pada malam hari ini.

Kita ketahui bahwa gamelan dan wayang kulit adalah peninggalan para leluhur yang perlu kita lestarikan sehingga menghasilkan nilai-nilai positip dan nilai-nilai sportifitas tinggi.

“Ini semua bisa untuk membentuk karakter generasi yang santun rendah hati yang punya rasa tata susila serta memiliki rasa tanggaping sasmita (peka terhadap keadaan) seperti yang diperagakan oleh dalang cilik dari Unindra yakni Prama Riza Fadhlansyah dan Rafi Ramadhan.” Ujar Siswoyo lagi.

Prama dan Rafi ini lahir tinggal dan dibesarkan di Jakarta yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia. Namun namanya amat dikenal sebagai dalang cilik yang piawai dalam olah sabet wayang bahkan beberapakali sudah pentas dimancanegara.

Ini berkat bimbingan sang kakek yakni Prof DR.H. DR.H.Sumaryoto Rektor Unindra. Kami berharap ini bisa memotivasi anak-anak kita yang ada di Banyumas.

“Karena di Banyumas sendiri ada sekolah pedalangan yakni di SMK Negeri3 Banyumas yang dulu disebut SMKI.” ujarnya.

Pagelaran wayang kulit malam hari ini pentas secara bergantian dan berkesinambungan. Diawali dengan adegan perang kembang oleh Dalang Cilik Rafi Ramadhan dilanjutkan jejeran oleh Ki MPP Bayu Aji dan adegan selanjutnya oleh Prama Riza Fadhlansyah. Untuk pamungkas oleh dalang MPP Bayu Aji. Sebelum pentas dimulai, pemirsa juga disuguhi Tarian Lengger Banyumasan oleh siswi SMK Negeri 3 Banyumas.

Ajarkan toleransi.

Wahyu Panca Dharma memiliki makna bahwa budaya maupun agama kita mengajarkan untuk saling toleransi. Saling menghargai satu sama agama maupun antar agama. Sehingga kita dalam berkreasi  tentunya tidak pernah atau tidak boleh meninggalkan norma-norma agama dan nilai budaya itu sendiri. (Saring Hartoyo)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.