AHMAD TOHARI:  WABAH CORONA BISA JADI SUMBER INSPIRASI BAGI PARA SASTRAWAN.

H. Ahmad Tohari. (SH)

Selarasindo.com–Dunia saat ini sedang dilanda prahara berupa wabah Corona. Virus yang satu ini telah memakan korban puluhan ribu umat manusia di dunia. Namun dibalik musimah tersebut, bagi para sastrawan atau penulis sastra,  hal itu bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi.

Semestinya dengan adanya peristiwa besar yang melanda dunia berupa wabah Corona ini akan menginspirasi para penulis untuk berkarya. Apakah dalam bentuk novel, cerita pendek maupun piusi. Hal ini karena peristiwa ini sangat serius dalam berkehidupan. Hal itu disampaikan oleh sastrawan dan budayawan asal Banyumas H.Ahmad Tohari saat ditemui di Umah Sastra Ahmad Tohari di area obyek wisata Agro Karang Penginyongan di desa Karang Tengah,  Cilongok Banyumas, Sabtu 4/7.

Sastrawan Banyumas H Ahmad Tohari saat menerima kunjungan penggemar seni sastra dari Ajibarang di Umah Sastra Ahmad Tohari (AKP), Sabtu 4/7. ( SH)

Selanjutnya sastrawan yang meraih berbagai penghargaan ini menuturkan bahwa wabah Corona itu  juga merupakan sebuah peringatan kepada umatnya bahwa Yang Maha Kuasa itu bisa berbuat apa saja. Kita sebagai manusia hanya bisa memohon dan ikhtiar agar ditakdirkan nenjadi manusia yang baik-baik saja.

“Kita juga harus menyadari bahwa manusia di dunia ini sudah ada yang mengatur yakni Yang Maha Pencipta.” tandasnya.

Banyak orang tua prihatin.

Manusia berbeda dengan makhluk lain seperti hewan misalnya. Manusia memiliki olah rasa dan olah pikir yang dalam berkomunikasi diungkapkan dengan kata-kata. Saat ini banyak orang tua yang prihatin terhadap anak-anak sekarang yang tidak lagi mengekspresikan pengormatan kepada orang tua baik dalam berkata-kata maupun dalam perilaku atau olah tubuh saat berkomunikasi dengan orang tua.

Melihat fenomena seperti itu Ahmad Tohari berpendapat bahwa yang namanya kehidupan terus menerus mengalami perubahan dan perkembangan dengan pola dan caranya sendiri-sendiri.

“Dulu jika seorang anak dalam berkomunikasi dengan orang tua apabila tidak menggunakan bahasa Jawa kromo,  dianggap tidak santun atau murangtata, tidak beretika. Namun saat ini tidak perlu seketat itu lagi. Karena memang dinamika alam yang terus berkembang. Anak muda sekarang ini  karakternya  dibangun bukan hanya oleh orangtuanya dirumah.  “Tapi di sekolah, di tengah masyarakat dan juga dari media social.”ujarnya lagi.

Oleh karena itu ia mengajak masyarakat untuk  menerima perubahan itu secara cerdas dan tidak perlu emosi. Namun demikian juga perlu adanya mengendalikan agar apa pun perubahannya tetap tidak meninggalkan keadaban.

Ahmad Tohari, adalah sastrawan dan budayawan kondang yang lahir 13 Juni 1948di desaTinggarjaya, Jatilawang Banyumas.  Selepas SMA di Purwokerto, ia melanjutkan kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwwokerto.

Sebagai sastrawan Ia dikenal sebagai novelis,cerpenis dan kolumnis. Karyanya yang terpopuler antara lain : Novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Bahkan salah satu karyanya difilmkan dengan judul Sang Penari, Darah dan Mahkota Ronggeng Dukuh Paruk. (Saring Hartoyo)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.