EDON, SASTRAWAN BANYUMAS TAMPIL DI TVRI JOGJA.

Edi Romadhon didampingi Hendro saat tampil di TVRI Jogja Kamis 11/9.(ist)

Selarasindo.com. Sastrawan kondang dari Banyumas yang juga pimpinan Sanggar Gethek Edi Romadhon (Edon), Kamis 11 September 2020 muncul di TVRI Jogjakarta.

Tampilnya di acara Pendapa Kang Tejo tersebut sebagai bintang tamu. Dalam kesempatan tersebut, sastrawan puisi ini juga sekaligus membawa misi untuk mensosialisasikan adanya Rumah Sastra Ahmad Tohari di wahana wisata edukasi Agro Karang Penginyongan, di desa Karangtengan,kecamatan Cilongok Banyumas Jawa Tengah

Edi Romadhon. (SH)

Edon saat itu didampingi Hendro yang juga seniman vokal mengisi jam tayang pukul  pukul 17.00-18.00 WIB diisi Musikalisasi Puisi karyanya berjudul:

Air Mata Kini.

Bila air mata telah berubah menjadi air bah bernama banjir.

Ada apa dengan Jakarta?

Kenapa selalu saja ada dalam aura sikat, sikut, cakar dan Aung.?

Aku ingin memasuki jalan lempang, panjang, hidup tenang nan tentram.

Tetapi begitu susahnya.

Seribu orang  lalu lalang.

Aku tanya  satu-satu, semuanya menggeleng, melenggang, Embuh…

Dikatakan Edon,  puisi ini mengandung pesan agar kita dalam menjalani hidup saat ini harus berhati-hati. Dimana, kanan kiri kita banyak sekali orang yang dorong mendorong.

“Saya  ingin memasuki jalan lempang, panjang nan tentram. Namun begitu, betapa susahnya hidup saat ini.”ujar Dosen UMP yang juga duduk sebagai Marketing AKP ini.

Menggeluti puisi karena hoby. 

Edon adalah sosok seorang  puitis yang telah melanglang ke berbagai kota di  tanah air. Ia pernah pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta sebanyak 4 kali, Ia juga pernah pentas berbagai kota di  Jawa. Antara lain di Taman Budaya Solo, dan beberapa kali pentas di Taman Raden Saleh Semarang.  Di luar TVRI Jogja juga beberapa kali pentas. Sedang  di Purwokerto sudah tak terhitung lagi

Ketika ditanyakan mengapa tertarik menggeluti dunia sastra khususnya puisi, ia  menuturkan hal ini karena hoby. Dunia sastra  sulit untuk dijadikan sebagai sumber kehidupan apalagi puisi.

“Sama-sama karya sastra, tapi beda antara puisi dan novel. Sastra  Puisi  diibaratkan bernafas pendek  sedangkan novel bernafas panjang.” ujar Edon yang juga seorang entertainment kondang ini. (Saring Hartoyo)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.