LAGI-LAGI ANARKO. Oleh Dimas Supriyanto.

Huruf A di tubuh bagian belakang sebagai simbol Anarko. (Ist)

Selarasindo.com–NAMA Anarko lagi lagi disebut dalam demo rusuh Kamis, 8 Oktober 2020. Pejabat Kepolisian dan Pangdam Jaya menyebutnya di siaran berita teve. Meski sudah menjadi kelompok laten kita jarang melihat proses hukum terhadap mereka.

Anarko Sindikalis – Anarcho-Syndicalism – biasanya memang muncul dan menumpang demo buruh. Mereka memanaskan suasana dan membuat aksi anarki – sesuai namanya. Pancingan rusuh mereka selalu berhasil mengajak massa lain yang ikut ikutan. Aksi aksi anarki tak terhindarkan.

Anarko Sindikalis bukan perusuh biasa. Mereka ingin menumbangkan negara. Anarko adalah paham politik anti negara dan anti tatanan.

Mereka memanfatkan keresahan dan kepanikan massa untuk membuat negara tanpa aturan. Menciptakan masyarakat tanpa kelas politik, ekonomi, dan sosial. Anti kemapanan.

Kelompok Anarko berpaham Anarkisme yakni suatu paham, ideologi, ataupun filosofi yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.

Penggagasnya adalah Mikhail Alexandrovich Bakunin (1814 – 1876) dari Russia, teman seiring Karl Marx.

Menurut Bakunin, alat alat produksi serta tanah harus dimiliki secara kolektif, bukan oleh segelintir orang termasuk yang dikendalikan negara. Karenanya, negara sama sekali tidak diperlukan. Sebab kekuasaan negara berpotensi melanggar hak hak individu yang bebas.

Meski sama sama anti Kapitalisme, Anarko bukan Komunis. Anarko justru jenuh dengan paham komunis. Jika komunis percaya pada negara – dan terus berusaha merebut negara – maka Anarko sama sekali tidak percaya pada negara.

Anarko-sindikalis adalah cabang anarkisme yang berkonsentrasi pada pergerakan buruh. Selain anarko-sindikalis, varian-varian dari anarkisme meliputi anarko-komunis, anarko-pasca kiri, anarko-feminis, eko-anarko, anarko-individualis, anarko-primitifisme, dan anarko-insureksioner.

Vadim Damier, penulis “Anarcho-Syndicalism in the 20th Century” menyebut anarko-sindikalis bangkit pada dekade pertama abad ke-20. Sindikalisme sebagai bentuk gerakan buruh mulai diformulasikan di Paris pada 1886 dan kemudian berkembang.

Karl Mark menggunakan gerakan buruh untuk membentuk negara . Sedangkan Michael Bakunin sama sekali tidak percaya pada negara.

Dia merujuk pada pendapat John Wistanie “Ketika Tuhan menciptakan bumi, tidak terdapat satu kata pun yang disebutkan adanya negara”

Gerakan ini pertama kali muncul di Eropa pada abad ke-20. Sekumpulan orang itu percaya bahwa serikat buruh bisa menjadi kekuatan revolusioner untuk menggantikan sistem kapitalisme.

Anarko Sindikalis lahir dari buruh yang kecewa terhadap penindasan dan pengabaian hak. Mereka menjalankan berbagai aksi langsung seperti pemogokan, sabotase, boikot, dan blokade. Anarko Sindikalis jenuh terhadap Komunisme.

Lalu mereka berjuang untuk menghapuskan sistem kerja upah dan memperjuangkan perebutan alat produksi.

Beberapa tahun ini, di Indonesia, Anarko Sindikalis selalu muncul ada moment pergerakan massa.

Kostum hitam dan bendera merah hitam menjadi ciri khas mereka. Selain itu, atribut dengan logo anarki, huruf A di tengah lingkaran juga sering mereka bawa.

Anarko tidak punya organisasi tidak punya struktur dan tidak ada pemimpin. Sebagian yang tertangkap tidak menyebut anggota Anarko tapi melakukn aksi anarki.

Metode gerakan ini melalui aksi langsung, baik dalam perjuangan ekonomi maupun politik.

April 2020 lalu kelompok mereka membuat coret coret di berbagi tembok di sentero kota pulau Jawa dengan ajakan yang provokatif. “Kill The Rich” (bunuh orang kaya) “Saatnya membakar” .

Pelakunya terekam kamera CCTV dan berlanjut dengan sederet penangkapan. Pelakunya umumnya masih ABG.

Jangan salah. ABG ABG itu hanya penampakan kulit luarnya. Coro coro di garis depan. Di balik mereka ada tokoh dan gerakan intelektual. Ada ideologi laten yang membahayakan banyak negara. Karena ini bagian dari ideologi internasional.

Gerakan itu mudah diterima anak muda dalam berbagai kegiatan seni dan kerja-kerja kebudayaan. Gerakan Anarko Sindikalis diikuti orang-orang terdidik, suka membaca, dan berpikir kritis. Mereka terjun langsung melawan berbagai ketidakadilan dan ketimpangan sosial di sekitar mereka.

Sabotase, pemogokan, serta boikot, demi tatanan ekonomi yang dikehendaki terwujud – adalah beberapa contoh dari metode aksi langsung itu.

Mereka menumpang pada demo buruh. Pada 1998 mereka menumpang di PRD pro rakyat demokratis (tokohnya Budiman Sujatmiko). Juga menumpang di PKI di masa lalu.

Modus menumpang dilakukan bukan untuk mendukung yang punya hajat, melainkan “tahapan belajar ribut sama negara” sebagaimana diakui oleh tokohnya yang disamarkan namanya.

Penganut Anarko Sindikalis tak peduli pada nasib buruh. Sejak awal mereka punya ideologi sendiri.

Tapi di lapangan kehadiran mereka tidak ditolak (oleh massa buruh), lantaran punya musuh bersama: negara. (DS/SH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.