PENGGEMAR EBEG ‘WAHYU TURONGGO SEKTI’ TETAP BERTAHAN MESKI DIGUYUR HUJAN.

Grup Ebeg Wahyu Turonggo Sekti saat pentas di Lembah Temu Agung, Agro Karang Penginyongan Minggu 15 /11. (SH)

Selarasindo.com–Sungguh membanggakan. Masyarakat desa Karangtengah kecamatan Cilongok dan sekitarnya ternyata penggemar berat seni kuda kepang atau Ebeg. Meski diguyur hujan, pemain maupun penonton tetap bertahan.

Seperti halnya Minggu siang 15 Nopember 2020, grup Ebeg ‘Wahyu Turongo Sekti’ dibanjiri penonton yang mayoritas anak muda.

Penonton diluar arena pentas, satu-satu kesurupan. (SH)

Diawali pukul 13.00 WIB, penonton pun mulai berdatangan. Tak lama kemudian di daerah Agro Karang Penginyongan gerimis pun mulai turun.

Sebagian penonton bernaung di Pendapa Praba Wulan. Meski diguyur hujan gerimis namun antusias baik pemain maupun penonton sama-sama bertahan hingga pentas selesai. Yang menarik lagi,  pentas Ebeg ini juga berdampak pada penggemar yang biasa interes atau kesurupan. Beberapa penonton yang tengah bernaung di pendapa Praba Wulan pun kesurupan sehingga sempat membuat penonton lain terkejut.

Dimaklumi bahwa anak muda Banyumas terutama yang di daerah pinggiran banyak yang tertarik dan menggeluti seni kuda lumping . Terbukti penonton yang berada di luar area pentas pun satu satu kesurupan. Kesurupan adalah salah satu ciri khas kesenian Ebeg yang merupakan salah satu kesenian khas Banyumas dan sekitarnya.

Sarno Ketua Ebeg Wahyu Turonggo Sekti. (SH)

Dikatakan Sarno Priyono (62) Ketua Grup Ebeg Wahyu Turonggo Sakti, Ebeg ini berdiri tahun 2011. Kini beranggotakan sekitar 30 orang, usia antara 20-60 tahun.

Oleh kepala desa Sarno diminta supaya membuat grup ebeg, yang kemudian diberi nama Wahyu Turangga Sakti.

“Saya tidak mengira kalau akan mendirikan grup ebeg. Wahyu artinya hidayah, turonggo artinya jaran atau ajaran dan sekti adalah kebal dari gangguan. Ia berharap kesenian ebeg ini tetap lestari.

Sarno selain sebagai ketua juga merangkap penimbul. Sebagai penimbul ia juga melakukan laku spiritual. Sebagai yang dituakan ia terus berupaya menanamkan sikap tertib disiplin serta bertanggungjawab kepada para anggotanya. Sejak terbentuk hingga sudah pentas di berbagai daerah antara lain di Taman Kota Brebes, Taman Kota Wangon dan Taman Kota Cirebon. Di sekitar Banyumas, pernah  pentas Petaunan, Ajibarang, Cilongok, Gumelar dan sekitarnya.

Ketika ditanyakan berapa tarif untuk sekali pentas, Sarno menuturkan, kalau daerah sekitar sini sekitar Rp 4 juta.

Butuh bantuan pemerintah.

Wahyu Turonggo Sekti baru kali ini pentas di Agro Karang Penginyongan. Selain untuk melestarikan juga mengenalkan seni ebeg kepada generasi penerus. Menurut Sarno, Grup ini tahun 2014 pernah mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp 5 juta untuk membeli peralatan. Saat ini yang dirasa kurang kurang adalah gamelan sudah mulai rusak, seragam beskap penayagan dan perangkat ebeg. Untuk itu kepada pemerintah ia berharap bantuannya.

“Saya merasa bersyuukur karena anak muda sekarang juga senang kepada kesenian tradional ebeg.” ujar sesepuh yang tinggal di RT 1 RW 3 Karang Kemiri kecamatan Pakuncen Banyumas. (Saring Hartoyo)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.