KHATIB JUGA MANUSIA – Oleh Supriyanto Martosuwito.

Ilustrasi (ist)
Ilustrasi. (Ist)

Selarasindo.com–SEORANG teman baru,  bertutur bahwa di Indonesia ada sejuta orang yang serentak bicara pada hari yang sama –  jam yang sama –  dan mereka tidak bisa diinterupsi atau dibantah. Tak ada pembahasan dan diskusi juga sesudahnya.  

Mereka adalah khatib Jumat yang naik mimbar dan memberikan khotbah.
Angka satu juta orang (khatib) didapat dari data Dewan Masjid Indonesia (DMI)  bahwa di seantero Nusantara kini ada sejuta masjid – yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.  Masjid itu rutin menggelar Jumatan,  tentu saja.

Isi khotbahnya bisa apa saja –  suka suka pak Khatib.  Yang penting sesuai ajaran Islam yang mereka yakini dan ketahui, berikut dalil dalil dan ayat pendukungnya. Ada yang lembut,  datar dan bikin ngantuk.  Ada yang sedih bikin air mata netes.  Ada yang kocak, banyak anekdot,  bikin ketawa. Dan ada yang berkobar kobar bikin jemaah merah kupingnya.

Mereka semua mengatas-namakan “umat” – “perintah nabi” – tapi kita sama sama tahu, ada yang membawa agenda pribadi dan kelompok dan aliran dalam hal ini.  Juga kekuatan politik. Baik sebagai aspirasi pribadi maupun pesanan.

Maka – bisa saja para khatib menyebut dan semena mena menuding pemerintah kita “dzalim” – “anti Islam” –  “sekuler” – “kafir” – “dukung maksiat” – “thogut” – “komunis” dan “jangan memilih pemimpin non muslim” atau semacamnya.

Mereka tidak bisa dibantah.  Jemaah yang Jumatan harus diam saja dan mendengarkan, sampai rangkaian ibadah selesai. Lalu shalat dan bubar.  Tak ada dialog.  Apalagi diskusi.

Pada tiap penyelenggaraan ibadah Jumatan minimal jemaahnya ada 40 orang.  Maksimalnya bisa ribuan.

Dan kita sama sama tahu bahwa hal itu sudah berpuluh puluh tahun dan akan terus berlangsung  hingga puluhan tahun berikutnya.

POLITISASI masjid bukan hanya terjadi hari ini atau beberapa tahun terakhir ini.  Bukan hanya jelang Pilkada yang menjatuhkan Ahok BTP 2017 dan Pilpres 2019.

Kerusuhan Tanjung Priok, 12 September 1984,  yang berujung rentetan penembakan yang menewaskan ratusan warga dan jamaah di Jakarta Utara dimulai dari mimbar masjid. Dari provokasi ustadz dan khatib di sana. Dari ceramah ceramah “keras” yang membuat jemaahnya berani menyerbu kantor Kodim dan menghadang peluru.

Semua orang tahu bahwa Islam  ajaran yang membawa “rahmatan lil alamin”  – rakhmat bagi seluruh alam. Bahwa Nabi Muhammad SAW yang menyebarkannya diturunkan ke bumi untuk  menyempurnakan akhlak. Itu esensi dan substansi yang dibawanya.

Tapi itu juga teori.  Teks di atas kertas.

Dalam praktik –  antara sengaja dan disengaja – para khatib Jumat banyak mengacaukannya dengan membatasi kotbah-kotbahnya bernuansa “rahmatan lil muslimin”. Melulu kepentingan muslim. Dan rendah sekali wawasan kebangsaannya.

Ungkapan “umat Islam terdzalimi” – ” muslim dipinggirkan”,  “pemerintah sekuler” – “komunis bangkit”,  “hanya memikirkan asing dan aseng” adalah yang umum dibawa khatib yang berpolitik dan menggunakan mimbar sebagai media untuk menyampaikan aspirasinya.

KAWAN BARU saya itu – politisi dari partai nnasionalis besar (tapi bukan PDIP) menyatakan,  kurangnya perhatian pemerintah membuat sebagian khatib di mimbar Jumat sering bicara “keras” dan “melenceng”. Bahkan sengaja membenturkan umat dan pemerintah atau negara.

“Mereka menginginkan ada perhatian khusus dari pemerintah,  ” tambahnya. Dia berkesimpulan begitu –  karena  sudah bicara dengan mereka dari hati ke hati. Bukan berdasarkan teori melainkan praktik lapangan.

Alih alih khatib diajak bicara dan disentuh hatinya –  yang ada gagasan pihak pemerintah melakukan ‘sertifikasi’.  “Udah nggak kasi perhatian,  nggak kasi duit,  malah mau ngatur ngatur,  ” katanya mengutip kejengkelan para khatib.

“Khatib juga manusia – punya hati,   punya rasa, ” katanya, menggutip lagu “Seurious” (2005) yang dibawakan Candil.

Punya masalah ekonomi dan keluarga juga,  tambahnya.

DIA – kawan baru saya itu  –  terus terang turun ke lapangan setelah DKI Jakarta kebobolan dengan politisasi masjid, ramai ayat mayat,  dan tokoh yang dijagokan partainya kalah di Pilkada 2017 lalu.

Dia meyakini masjid sebagai potensi pemersatu bangsa. Juga sebaliknya. Bisa mengobarkan  konflik horisontal, sebagaimana terjadi di Tunisia dan negara negara di Timur Tengah lainnya dalam gelombang musim semi Arab –  “Arab Spring”.

Si Imam Jumbo yang kini dibui di Polda Metro itu pun memanfaatkan masjid untuk mengompori umat memberontak dan melecehkan pemerintah yang sah.

Tak mau kecolongan lagi –  jelang  Pilpres 2019,  dia menggunakan  jaringan muslimnya untuk mendata mereka semua.  Terkumpul 600 khatib.
“Mereka kami garap, ” katanya.

Mereka dikumpulkan, diajak bicara bicara –  dari hati ke hati,  dibujuk untuk kembali ke “khitah” dan  menyampaikan lagi kotbah bernuansa sejuk damai,   “Islam rahmatan lil alamin” –  persatuan dan kesatuan. Kerukunan umat.  Meningkatkan ketakwaan dan sekitar itu.

“Nggak ada lagi omong politik,  partai atau jagoan pilkada. Apalagi pilpres.  Pokoknya kembalikan ke awalnya,  bikin umat yang shalat jadi adem, ” katanya.

Tentu saja tidak gratis. Ada biaya operasional. Dengan mengandalkan jaringan, berlangsung transfer serentak. Hingga pilpres 2019 berlangsung terkendali.

Khatib Jumat dapat dua tunjangan / insentif, setelah turun mimbar,  yakni dari pengurus masjid yang ngundang.  Dan dari  kawan saya ini.  Asyiik.

Urusan transfer berlangsung sampai Pilpres 2019 lalu yang berakhir damai.  Selanjutnya pemerintah diharapkan mengambil alih.  “Saya sudah cek di DPRD dan Balaikota memang nggak ada anggaran resmi untuk mereka, ” katanya.

Kawan saya itu menyatakan pemerintah harus mengalokasikan dana untuk para  khatib Jumat dan membina mereka,  karena posisi mereka yang strategis : bisa mempengaruhi pola pikir umat. Para jemaah.

“Sejuta orang ngomong bareng di hari yang sama, pada jam yang sama di seluruh Indonesia –  nggak bisa dibantah.  Terus berulang tiap Jumat.  Apa jema’ah nggak terpengaruh?  ” tanyanya.

Saya termangu sembari menyeruput es teh leci.  ***

Penulis adalah wartawan senior. Tinggal di Depok – Bogor.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.