SELAMAT JALAN RADHAR PAN A DAHANA. oleh Dimas Supriyanto.

Radhar Panca Dahana. (Ist)

Selarasindo.com – Hidup yang saya jalani tergolong tidak sehat. Jarang olahraga dan suka begadang sembari ngopi. Selama puluhan tahun. Ketika muda belia dulu bahkan sambil merokok atau ‘nenggak’ alkohol. Karenanya, membayangkan cuci darah tiga kali seminggu sungguh menyeramkan. Tapi itulah yang dijalani Radhar Panca Dahana selama bertahun tahun, sepulangnya dari Prancis.

Kini Radhar tak perlu cuci darah lagi. Kamis malam (22/4/2012) pk.20. 00, di ruang UGD RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menjadi “ritual” cuci darah terakhir baginya. Dia dipanggil menghadap Sang Khalik. Dari Sang Pencipta kembali ke Sang Pencipta. Inalilahi wa ina illaihi rojiun.

Secara pribadi, saya tidak dekat dengan Radhar Panca Dahana. Kami tidak gaul, meski bertahun tahun menjalani hidup di wilayah yang sama yakni seni dan budaya dengan senjata utama mesin ketik dan komputer. Kami juga berguru dan menyambangi “mata air” yang sama yaitu WS Rendra dengan Bengkel Teaternya. Teman temannya adalah teman saya. Demikian juga teman teman seniman dan budayawan yang dekat saya. Tapi kami jarang amprokan.

Meski demikian saya merasa kehilangan saat dia pergi. Dia adalah api yang menyala di tengah melemahnya kegiatan teater dan sastra dan kebudayaan kita saat ini.

Terakhir kami bertemu di area TIM saat dia orasi di tengah seniman, Februari 2020 lalu, memprotes rubuhnya bangunan Graha Bhakti Budaya dan munculnya gedung gedung baru di TIM Cikini, Jakarta Pusat, yang menjauhkan dari komunitas seniman dan ekspresi seni. Kesenian hanya dijadikan proyek di antara pejabat dan birokrat seni, sementara senimannya banyak menganggur.

Protes yang saya dampingi bersama para jurnalis ibukota lain berlanjut ke DPR RI, diterima oleh Komisi X di mana di sana ada aktor dan sutradara Dede Yusuf Effendy dan Rano Karno. Saat itu Radhar benar benar marah, bahkan menyemprot Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan budeg karena tak mau mendengar aspirasi seniaman.

Kabarnya acara dengar pendapat seniman dan wakil rakyat di Senayan itu berlanjut dengan pertemuan wakil para seniman dan Gubernur Anies. Tapi saya tak tahu hasilnya. Rada kecewa juga saya sebagai peliput dan ikut mendukung perjuangannya ditinggal.

AKAN TETAPI itu lepas dari sosok Radhar sebagai seniman budayawan, yang saya kagumi selama ini. Dia memulai karir sebagai penulis cerpen, puisi dan esei yang sangat produktif.

Lalu bergabung dengan Kompas Grup sebagai jurnalis media remaja. Bersama Valens Doy dan Arswendo Atmowiloto. Dia lima tahun lebih muda dibanding saya, tapi pikiran pikirannya meluas dan membumbung ke angkasa. Sebagian besar tulisannya sulit saya pahami.

Sejak sekolah menengah seniman kelahiran 26 Maret 1965 ini kabur dari rumahnya di kawasan Lebak Bulus, tak tahan dengan didikan ayahnya yang menurutnya otoriter. Anak ke lima dari tujuh bersaudara ini menemukan dunia baru di Gelanggang Remaja Bulungan, Kebayoran Baru. Dia banyak menulis cerpen, naskah drama, opini, esai di berbagai media. Bersama-sama Noorca Massardi dikenal sebagai pengarang yang laris pada masanya.

Dari produktifitasnya menulis itu, dia mendapat beasiswa ke Prancis. Namun dia hanya menjalaninya setahun, karena tak bisa jauh dari Tanah Air. Selain menulis esei, dan pikiran pikiran kebudayaan, Radhar juga berteater. Karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing.

Sejak pulang dari Prancis, kesehatannya merosot. Mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah secara rutin. Konon dia mengidap 24 macam penyakit, sebagai dampak ginjalnya yang rusak. Tapi saat bicara tentang seni dan kebudayaan matanya menyala nyala. Energinya muncul dari sana.

Radhar telah pergi dan saya hanya mengoleksi satu buku kumpulan karangan yang ditulisnya, “Kebudayaan dalam Politik Kritik pada Demokrasi” terbitan Bentang, 2015 lalu.

Sastra, teater dan kebudayaan – itulah energi Radhar Panca Dahana sejak remaja hingga akhir hayatnya.

Selamat Jalan, Kawan. Semoga damai di sisiNya. Amin.

Penulis Wartawan senior tinggal di Depok.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.