ULTAH KE 73, H. AHMAD TOHARI: “TERIMA KASIH DAN DO’A UNTUK PAK LIEM”.

 H. Ahmad Tohari. (Sh)

Selarasindo.com–Umah Sastra Ahmad Tohari yang berada di wahana wisata edukasi Agro Karang Penginyongan (AKP), Minggu 27 Juni 2021 ramai dikunjungi sastrawan dan budayawan dari eks karesidenan Banyumas dan sekitarnya.

Kedatangannya ke obyek wisata edukasi di desa Karangtengah kecamatan Cilongok Banyumas ini untuk ikut lomba Cipta dan Baca Puisi dalam rangka mengayubagya 73 tahun sastrawan H. Ahmad Tohari yang mengangkat nama Indonesia ke kancah internasional.

Usai acara Lomba Cipta dan Baca Puisi H. Ahmad Tohari potong tumpeng  diserahkan kepada  Koeswintoro (Pak Liem owner AKP) yang diwakili oleh Narsam (OM), Minggu 27/6/21. (Sh)

H. Ahmad Tohari lahir di desa Tinggarjaya kecamatan Jatilawang Banyumas 13 Juni 1948. Sebenarnya tasyakuran sudah diadakan dengan sederhana di rumahnya beberapa waktu lalu. Namun para penggemarnya khususnya dari kalangan sastrawan dan budayawan eks karesidenan Banyumas dan sekitarnya sepakat bersama-sama merayakannya.

Ultah ke 73 ini awalnya digagas oleh Koeswintoro (Pak LIem) owner Grafika Group yang juga pemilik AKP. Gagasan itu kemudian direspon positif oleh para sastrawan dan budayawan. Dalam upaya untuk menarik generasi muda terhadap minat baca dan menulis sastra  kemudian dikemas dengan acara Lomba Cipta dan Baca Puisi, bertempat di Umah Sastra Ahmad Tohari, Minggu 27/6/2021.

Panitia diketuai oleh sastrawan dan budayawan Banyumas Edi Romadhon yang juga dosen Sastra UMP Purwokerto bersama dengan sastrawan budayawan  dari eks karesidenan Banyumas dan sekitarnya seperti Tegal (Atmo Tan Sidik) , Brebes (Lukman Suyanto) , Purbalingga (Jarot C. Setiyoko), Banjarnegara (Hadi Supeno) dan lainnya ini mendapat respon positif. Dengan tetap mentaati protokol kesehatan acara berjalan lancar.

Ada 23 peserta yang secara bergantian menampilkan kebolehannya baik penulisan maupun ekspresi penghayatannya dalam membaca puisi karyanya.

Usai lomba dilanjutkan do’a bersama dan upacara tradisi berupa potong tumpeng sebagai ujud syukur dan doa semoga H. Ahmad Tohari diberikan umur panjang senantiasa sehat dan terus berkarya.

Doa untuk Pak Liem.

Usai acara, H. Ahmad Tohari sempat bincang sejenak dengan selarasindo.com. Bagaimana kesan Bapak dengan adanya acara perayaan Ultah 73 tahun ini?

” Ya saya berterima kasih kepada teman-teman semua yang telah merayakan Ultah saya ke 73. Tapi yang terpenting adalah penghargaan saya kepada Pak Liem (Koeswintoro owner AKP) yang tetap komit terhadap kebudayaan khususnya sastra Indonesia. Semoga Pak Liem panjang umur dan sehat selalu. Karena beliau sedikit lebih tua dari saya,” ujarnya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk mengantarkan namanya mendunia.

H. Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal sebagai pengarang yang karyanya digemari dunia. Diantaranya trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Karya Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang diterbitkan pada tahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil. Pada masa itu Novel ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Ahmad Thohari sempat berurusan dengan pihak berwajib. Atas bantuan Gus Dur akhirnya ia terbebas dari tekanan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.

Karya-karyanya banyak mendapat hadiah, seperti cerpennya yang berjudul “Jasa-Jasa buat Sanwirya” memenangi Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radi Ao Nederland Wereldomroep (1977). Novel Di Kaki Bukit Cibalak, memperoleh salah satu hadiah Sayembara Penulisan Roman yang diselengggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Kubah (novel) yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai bacaan terbaik dalam bidang fiksi tahun 1980. Novel Jantera Bianglala dinyatakan sebagai fiksi terbaik (1986). (Saring Hartoyo).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.