NURLAELA DIRYATI, DOSEN UNSOED, AKTIFIS LINGKUNGAN HIDUP DAN PEREMPUAN.

 

Nurlaela Diryati. (Sh)

Selarasindo.com–Nurlaela Diryati adalah dosen Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto. Disela kesibukan sebagai dosen dan Ibu rumah tangga, wanita yang satu ini masih punya waktu terjun ke  masyarakat untuk menanamkan hak- hak perempuan dan peduli lingkungan.

Adik sastrawan kondang Banyumas H. Ahmad Tohari ini aktif di bidang perempuan dan lingkungan hidup sejak masih kuliah atau sekitar tahun 1990-an.

Seperti halnya pekan ini. Selama 4 hari (15-18 Nopember 2021) bertempat di Umah Sastra Ahmad Tohari, Agro Karang Penginyongan desa Karangtengah Cilongok Banyumas bekerja sama dengan LSM AKSI menggelar acara ‘Pelatihan Analisis Dampak  Lingkungan Perpektif Feminis Untuk Perempuan’ diikuti oleh 20 aktifis perempuan di wilayah kabupaten Banyumas.

Nurlaela Diryati (kanan) bersama Titi Soentoro saat buka pelatihan Analisis Dampak Lingkungan di AKP Senin 15/11/ 21.(SH)

Terdampak.

Dalam event kali ini Nurlaela tampil sebagai moderator. Sedangkan nara sumbernya adalah Titi Soentoro lulusan Technische Universitatch Berlin Jerman tahun 1986 . Kali ini dalam rangka pelatihan Analisis Dampak Lingkungan Perspektif Feminis Untuk Perempuan, yakni dampak perubahan iklim terhadap kaum perempuan.

Hal ini untuk membuka wawasan bahwa perempuan juga harus mempersiapkan diri dan paham terhadap perubahan perubahan iklim sehingga priper terhadap lingkungan. Salah satunya dampak dari pembangunan.

“Saya tinggal di perumahan desa Pasir Kidul Karanglewas Banyumas juga terdampak langsung akibat adanya galian C kali Logawa ke atas hingga Sonyalangu dan Dawuhan yang dikanan kiri ada 13 tambang galian C. Sejak tahun 2017, saya sudah tidak lagi melihat air sungai itu jernih.” ujarnya saat ngobrol dengan selarasindo.com disela acara Senin 15/11/21.

Nurlaela Diryati saat menjadi moderator dalam. acara Pelatihan Analisis Dampak Lingkungan pada kaum perempuan di Umah Sastra Ahmad Tohari Senin 15/11/21.(sh)

Buka wawasan. 

Akibat dari pengalaman ini ia kemudian terbangkit untuk mengajak pada kaum perempuan untuk memahami bahwa akibat perubahan iklim dan lain hal yang dampaknya merepotkan, terutama bagi kaum perempuan. Karena air amat melekat terhadap perempuan. Mulai untuk mandi, mencuci pakaian, masak hingga bikin kopi melekat pada kaum perempuan.

Dikatakan oleh Nurlaela bahwa pada acara ini baru pada tahap membuka wawasan terlebih dahulu tentang apa itu lingkungan hidup sehingga paham tentang masalah yang berdampak pada kaum perempuan.

Seperti halnya di desa Kalisari saat ini banyak mata air yang mati. Menurut hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 2000 bahwa kini banyak mata air yang mati. Bukan hanya di Indonesia namun juga di dunia. (Saring Hartoyo)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.