Sabtu, Desember 3
Shadow

SANG PAHLAWAN KEHIDUPAN, KAKEK BALATAWA HAMBALI UNGKAP RAHASIA SEHAT BERUMUR PANJANG.

Balatawa Hambali bersama putranya Coach Rheo seorang pakar Teknologi Pikiran. (ist)

Selarasindo.com–“Tua itu persepsi dan asumsi,” kata Balatawa Hambali, di suatu kesempatan. Bersifat numerial; sekedar angka-angka statistik. Ia senantiasa terbarukan melalui kerja-kerja kreatif dan produktif.

Inilah rangkaian waktu dimana kakek berusia 75 tahun ini menuturkan kisah inspiratif tentang orang-orang berumur panjang, bahagia, sehat dan tetap produktif.

“Konsisten adalah kunci kesuksesan dan kesehatan mental. Ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Hidup sehat harus punya kebulatan tekad. Fokus pada tujuan,” ungkap Balatawa Hambali, dalam perbincangan dengan penggiat seni dan budaya Eddie Karsito, di Jakarta, Kamis, 10 November 2022.

Bersama sosok inspiratif ini kita menyingkap tentang cerita orang-orang yang berusia panjang dengan pesan dan kisah hidupnya yang arif.

Balatawa Hambali bersama Eddy Karsito penulis yang juga pegiat seni dan budaya. (Ist).

Di usia yang tidak muda — dua pertiga abad, Balatawa Hambali baru saja menerima penghargaan atas pencapaiannya.

Menempuh jarak 966.16 Km dalam 48 sesi selama rentang waktu periode aktif, 11 – 24 Juli 2022, ia memenangi _Virtual Run & Ride._ Menempati posisi Juara III, di acara _MCI 12 Years Anniversary Virtual Fun Race 2022._

Tentang _MCI 12 Years Anniversary Virtual Fun Race 2022,_ 12 tahun sudah MCI berdiri dan menjadi jembatan bagi lahirnya sejumlah sosok inspiratif.

Salah satunya adalah Balatawa Hambali. Di usia yang tidak muda, Balatawa Hambali mampu membukukan prestasi luar biasa.

Terhadap pencapaian ini, Balatawa mengaku tak banyak yang diinginkan. Berumur panjang dan sehat, kata dia, adalah anugerah. “Mengalir saja,” ungkap pria kelahiran Sukabumi, 15 Juli 1947 ini singkat.

Bersepeda adalah salah satu olahraga favorit Balatawa Hambali. Selain hobi jalan kaki hingga puluhan kilometer. Tak ada alasan paling rasional selain hobi dan senang menjalani hidup apa adanya. Kedua hobinya ini membuatnya merasa selalu sehat lahir dan batin.

Hampir setiap hari Balatawa bersepeda dan atau jalan kaki menempuh puluhan kilometer. Menempuh rute dari kediamannya di kawasan Grogol Jakarta Barat, hingga ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK 2) Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Pergi pulang jaraknya sekitar 33 kilometer dengan waktu hampir sembilan jam. Naik sepeda sendiri, jalan kaki sendiri. Hambatannya kadang ban kempes atau bocor. Saya tambal dengan alat yang saya bawa sendiri,” ujar pria yang memiliki pengalaman fantastis, dari Jakarta ke Aceh mengenderai sepeda motor, melintas batas yang sebagian besar kawasannya masih hutan belantara.

Balatawa dapat menjadi potret dari sisi paling manusiawi tentang daya hidup manusia Indonesia untuk melampaui waktu dengan tetap bermartabat. Generasi abad ini barangkali dapat meneladani sifatnya yang konsisten, disiplin, serta penuh tanggung jawab.

Baginya umur memiliki makna positif yang bertalian dengan tingkat produktivitas seseorang. Berumur panjang artinya berhasil meraih kesejahteraan. “Kesejahteraan tidak melulu bersifat lahiriah, namun batiniah; spiritual,” ungkap pria yang senang berbagi untuk sesama ini.

Idealnya kesejahteraan, kata dia lagi, adalah kemakmuran dalam hal harta, ilmu, dan amal. Mewariskan ilmu yang membawa manfaat.

“Dan mewariskan harta yang memberi nilai guna bagi kebajikan untuk kemanusiaan,” ujar guru dan dosen bahasa Inggris lulusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, tahun 1979 ini.

Masih menyoal hidup sehat, bahagia dan panjang umur, rahasianya kata Balatawa melepas semua pikiran negatif. Sebuah cara pandang yang dapat memberikan ketenangan jiwa.

“Pikiran positif itulah kunci hidup sehat dan panjang umur. Orang-orang dengan sikap positif berisiko lebih rendah dirawat di rumah sakit dan cenderung hidup lebih lama,” ujar kakek yang memiliki kebiasaan tidur pukul 01.00 dini hari dan bangun pukul 04.00 pagi setiap hari.

Selain menata pikiran, Balatawa menyarankan perlu olahraga fisik yang konstan; berkesinambungan. Dua formula ini menjadi kiat bagaimana hidup lebih bergairah dan sehat.

“Sering kita dengar orang bilang jangan jalan waktu hujan nanti sakit. Kalau saya tidak. Jalan saja. Faktanya sehat-sehat saja. Yang penting pikiran senang,” tuturnya.

Terkait kecintaan terhadap olahraga sepeda, keluarga mendukung. Hanya, menurut Balatawa, keluarga melarang bersepeda jauh-jauh.

“Anak dan istri kadang khawatir karena saya sering pergi tidak bilang. Sebab jika bilang pasti dilarang. Jadi saya pergi saja. Jika keluar rumah bersepeda istri telpon tidak saya angkat karena sedang di jalan. Istri suka khawatir,” paparnya.

Soal makan beliau tak banyak berpantang. Namun hampir setiap hari mengonsumsi buah, minum air kelapa hijau, serta rata-rata dua botol air mineral.

“Tak banyak pantang tapi tidak berlebihan. Biasanya saya minum air kelapa hijau terus minum air kelapa muda. Selain airnya daging buah kelapa muda yang masih lembut saya makan,” paparnya.

Selain olahraga, Balatawa juga hobi membaca, khususnya buku-buku linguistik; kebahasaan. Bahasa menurutnya penting sebagai pintu gerbang memahami budaya orang lain.

“Hobi baca dan menyukai bahasa sejak Sekolah Dasar (SD). Sejak SD saya sudah senang membeli dan membaca buku-buku berbahasa Inggris. Menyukai cerita-cerita detektif,” ungkapnya.

Bahasa menurutnya, merupakan refleksi dari kebudayaan suatu bangsa. “Jika kita mampu berbahasa dengan baik, maka budayanya akan dikenal dengan baik,” katanya.

Balatawa mendorong agar setiap generasi mencintai bahasanya. Indonesia multi kultur dan memiliki keragaman bahasa. Oleh karena itu bahasa Indonesia menjadi penting sebagai alat pemersatu.

“Bahasa Indonesia bagus. Tata bahasanya mudah dipelajari. Banyak kosakata baru yang bersumber dari bahasa daerah. Ini kekayaan kultural yang perlu dikembangkan,” ujarnya.

Selain bahasa sendiri, kata Balatawa, anak bangsa perlu juga penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. “Bahasa Inggris disikapi sebagai bahasa ilmu pengetahuan,” ujar mantan Dosen Bahasa Inggris di Universitas Indonesia, Tahun 1984 – 1989, serta sebelumnya sempat menjabat Asisten Dosen dan Sekretaris Jurusan di kampus tersebut.

Balatawa Hambali menikah dengan wanita pujaan hatinya, Inge (61 tahun). Pasangan bahagia ini dikaruniai tiga orang anak; dua laki-laki, Rheo (39 tahun), dan Henrico 37 Tahun, serta satu perempuan Sesarini (30 tahun).

“Mereka sukses semua. Saya pun senang. Melihat anak berkecukupan. Hidup bahagia bersama keluarganya,” ungkap ayah dari Pakar Teknologi Pikiran, Coach Rheo ini.

Saat ditanya harapannya di masa depan? “Tidak ada tuntutan apapun. Justru tuntutan itu membebani kita. Hidup sudah lebih dari cukup. Semua sudah terpenuhi. Bersyukur saja, enjoy-enyoy saja, nikmati saja,” ungkapnya.

Menurut Coach Rheo, orangtuanya bukanlah dari keluarga mampu. Sejak Coach Rheo dan adik-adiknya masih kecil, ayahnya pekerja keras. Sering tidak di rumah banting tulang untuk menopang hidup keluarga.

“Waktu saya kecil, kami bukanlah keluarga berkelimpahan. Tapi papa terus berjuang bagaimana agar anak-anaknya bisa sekolah. Bisa survive,” cerita Coach Rheo, soal perjuangan ayahnya.

Sikap tanggung jawab, jiwa altruis, dan kerja keras ayahnya itu pula, kata Coach Rheo, menjadi salah satu pendorong; spirit buat anak-anaknya.

“Papa pekerja keras. Juga tipe orang yang selalu memikirkan orang lain. Jika punya goals tertentu dia komit untuk menyelesaikan,” tutur motivator yang juga pengusaha muda sukses ini.

Inilah perkenalan kita dengan Balatawa Hambali. Sosok ayah, sang kakek, ibarat cermin yang selalu memantulkan kejujuran pada hati nurani. Sufi di era modern berkaitan dengan makna hidup.

Seorang penyeimbang antara intelektual, profesional, moral, dan spiritual, yang menjadi pilar-pilar penyangga. Penyambung mata rantai umur manusia, agar hidup abadi, baik di mata sejarah maupun di hadapan Tuhan. (Edkar/SH).

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.