PERPAG TERUS PERTAHANKAN KARS GOMBONG SELATAN.

Selarasindo.com–Kebahagiaan kaum tani miskin desa adalah bentuk syukur dan doa kaum kepada Sang Maha Nggawe Urip, ditengah upaya rencana pengekspoitasian sumber daya alam bebatuan ekosistem karst,

Semua itu tidak pernah menyurutkan keberanian kaum tani di Pegunungan Karst Gombong untuk tetap menanam karena itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka saja, melainkan sudah menjadi hak ekologis alam agar selalu terjaga keutuhannya.

Ungkapan tersebut dalam Siaran Pers yang dikirim oleh Adi H. Budhiawan dari Perpag (Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong) Jumaat (28/09/2018)

Disebutkan, bahwa Pegunungan Kars Gombong Selatan juga telah diresahkan dengan adanya perpanjangan IUP PT Semen Gombong, dan disusul pula dengan perubahan tata ruang
wilayah Kabupaten Kebumen yang akan mengurangi sebagian kawasan bentang alam kars sebagai peruntukan pertambangan ekstraktif bahan baku semen.

Menurut Perpag, kenyataan ini menuntut masyarakat kaum tani desa khususnya dipegunungan kars Gombong untuk lebih tajam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak menjawab permasalahan rakyat dan cenderung ingin menjual aset kemakmuran bangsa ini demi keuntungan kapital yang secara liberal telah berkontribusi penuh terhadap berbagai kerusakan massif di Bumi.

“Selama tidak adanya keseriusan negara untuk meningkatkan kualitas pertanian rakyat dan selama negara ini masih meliberalisasikan sumber daya alam bangsa ini sebagai objek kekuatan segelintir pemodal, maka perlawanan dan persatuan kaum tani pula akan semakin massif terorganisir.” tulis Adi H.Budhiawan dalam rilisnya.

Masyarakat petani pegunungan kars Gombong lanjutnya, pernah mengalami intimidasi yang memaksa mereka untuk melepaskan lahan pertaniannya dipegunungan kars untuk dijadikan area pertambangan semen, hingga hari ini sebagian dari mereka masih tetap bercocok kebun dilahan tersebut karena mereka tahu betul bagaimana cara mempertahankan ekosistem kars karena sudah turun-temurun kelestariannya sanggup menghidupi ratusan ribu jiwa dikecamatan Buayan, Ayah, dan Rowokele, meskipun kini kualitasnya menurun akibat adanya pembiaran disebagian kawasan kars yang telah dikuasai perusahaan untuk tetap tandus agar seolah-olah layak untuk di eksploitasi.

Menurut Perpag, untuk tetap melestarikan pegunungan karst sebagai sumber air yang menghidupi hajat seluruh masyarakat dan mahluk hidup lainnya, maka di Hari Tani Nasional 2018 ini Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong yang sebagian besar didominasi oleh kaum tani menyatakan sikap dan menuntut:

Perpag , menolak peruntukan kawasan industri pertambangan dalam rancangan revisi Perda RTRW diatas Kawasan Bentang Alam Kars Gombong Selatan.

Cabut IUP PT Semen Gombong karena terbukti telah membiarkan proses degradasi dan penurunan kualitas air bersih di Pegunungan Kars Gombong Selatan.

Hentikan upaya-upaya manipulatif terhadap kaum tani.Tingkatkan komoditas hasil pertanian rakyat dengan menurunkan harga harga bahan baku produksi pertanian.

Hentikan upaya-upaya intimidasi dan kriminalisasi terhadap kaum tani dan buruh tani.

Pada peringatan HTN ke-58 masyarakat kaum tani Pegunungan Kars Gombong juga menyerukan kepada seluruh kaum buruh tani untuk merebut kembali kedaulatan kaum tani sebagai Soko Guru Negara (Burman/SH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.